KAIN DAN
BATIK KUNO
Dalam bentuknya yang sederhana, pemakaian kain pada masa lampau
merupakan salah satu sarana untuk menutupi bagian tubuh. Bersamaan dengan
proses pembudayaan dan tingkat kebutuhan. Fungsi dari memakai kain berkembang
menjadi pelegkap keindahan maupun simbol untuk perhajatan terhadap Tuhan yang
disembah. Penggunaan kain pada jaman Indonesia – Hindu di Jawa dilakukan
menurut kebutuhannya dan untuk melengkapi keindahan dibuatlah sejenis kain ikat
pinggul yang diberi nama uncal, sampur dan bira. Kain yang sesuai dengan
tingkat derajat pemakainya digunakan untuk upacara keagamaan dan Upacara
Manusuk Sima. Kain-kain itu terdiri dari beberapa jenis, misalnya kain
kaliyaga, jaro, pinilai, rangga, bira, atmaraksa, dan sebagainya. Jenis kain
tersebut merupakan benda yang dijadikan barang hadiah pada waktu Upacara
Manusuk Sima. Barang-barang semacam itu dinamakan pasak-pasak. Hadiah tersebut
tidak selalu datang dari raja tetapi bisa juga diberikan oleh pejabat bawahan
seperti kepala desa kepda raja atau rakyat.
Pada prasasti poh disebutkan bahwa para ketua desa dan orang-orang tua
di Poh mempersembahkan kain jenis jaro kepada Sri Maharaja. Selain itu, kain
jenis jaro beserta emas sebanyak 5 suwarno (gram) diberikan kepada nenek raja
dalam jumlah yang sama. Selanjutnya, satu stel kain jenis kaliyaga dan emas
sebanyak 4 suwarno diberikan kepada Rakyanapatih. Suatu ketika kepada pejabat
tinggi lainnya juga diberikan kain jenis kaliyaga dan emas 1 suwarno. Kain
jenis kaliyaga dan jaro merupakan kain pilihan yang pantas untuk raja atau
orang yang berderajat tinggi, sedangkan jenis kain untuk rakyat biasa dan para
wanita adalah jenis pinilai. Apabila melihat tingkat sosial pemakai kain
pinilai adalah golongan rendah, maka bisa dikatakan kain tersebut kualitasnya
kurang bagus. Selain jenis-jenis kain tersebut, ada juga nama wdihan yang
berarti kain untuk laki-laki yang disebut bebed dan kain perempuan disebut
tapih.
PERANAN
ASTACANDALA
Masyarakat di beberapa tempat di desa desa Jawa maupun Pekalongan Kuno
sudah terbiasa memakai tapih dan bebed, sedangkan anak-anak memakai jenis kain
rangga. Pemakaian kain bebed maupun tapih tidak saja putih polos sesuai
aslinya, tetapi diberi warna serta ragam hias dengan cara membatik untuk
menambah keindahan serta tujuan tertentu dan dibuat oleh golongan pengrajin
yang disebut Astacandala. Meskipun para Astacandala terdiri dari golongan
rakyat biasa, mereka mendapat tempat atau kedudukan yang dihormati karena
kepandaiannya oleh para Pu atau Pendeta. Kain batik tersebut selain dibuat
untuk bebed atau tapih, juga dipakai sebagai benda pelengkap upacara keagamaan.
Batik dengan hiasan dan warna tertentu dipakai sebagai alas tempat sesaji dalam
pura.
Sebagaimana telah diuraikan dimuka, bahwa aliran / sekte Agama Hindu
dan Budha, baik penyembah Dewa Siwa yang disebut Siwastra maupun aliran
Bahirawa dan Tantrayana telah berkembang dalam kehidupan keagamaan Hindu Budha
pasca kekuasaan Mataram Hindu di Pekalongan Kuno. Aliran Siwastra juga disebut
aliran Saiwapaksa dengan lambang berupa senjata panah Dewa Siwa. Beberapa pola
batik tertentu telah menjadi barang yang disakralkan oleh sekte-sekte Hindu
tersebut.
Ada suatu tradisi larung yang disebut “Nyadran” yaitu mengupahkan
pembuatan kain batik kepada seorang dukun bayi agar anaknya sembuh dari
penyakitnya. Pada upacara Nyadran besar yang diadakan setahuns ekali saat
selamatan Seren Taun, masyarakat desa di daerah pegunungan maupun pantai
menyertakan kain batik dengan pola tertentu untuk ikut dilarung di laut. Sesaji
tersebut sebagai persembahan dan ungkapan rasa terima kasih, baik kepada
penguasa alam, Dewa, Tuhan maupun penguasa laut. Upacara semacam itu telah
menjadi tradisi dan berlangsung sejak masa Hindu. Menurut Sukarto K. Atmojo,
tradisi semacam itu merupakan sisa-sisa peninggalan masa Hindu Jawa Tengah pada
abad IX atau X Masehi. Dengan demikian, batik pada masa lampau dengan ragam
hias yang mengandung kepercayaan, lebih cenderung digunakan sebagai sarana
ritual daripada penutup badan. Oleh karena itu, kedudukan kain batik sangat disakralkan
karena dianggap memiliki sifat magis.
Secara ekonomis, batik pada masa lapau belum menunjukkan sebagai barang
yang diperdagangkan. Pemakaian kain berpola masih terbatas digunakan oleh
kalangan masyarakat tertentu, seperti para Brahmana, dan pendeta. Para raja dan
keluarganya lebih banyak menerima hadiah kain bercorak atau sulaman dengan
hiasan tertentu seperti halnya tenun patola dari India (Pantai Gujarat) atau
Thailand yang dibuat dengan teknis tenun ganda. Oleh karena kain-kain tersebut
mahal dan semakin langka sehingga sulit dimiliki oleh masyarakat pada umumnya,
maka golongan Astacandala membuat kain dengan ragam hias yang sama namun dengan
teknis berbeda yaitu teknik batik. Itulah pertama kali pembuatan kain dengan
ragam hias batik dimulai.
Sebagaimana telah diuraikan dimuka bahwa aliran / sekte Agama Hindu dan
Budha, baik penyembah Dewa Siwa yang disebut Siwastra maupun aliran Bahirawa
dan Tantrayana Hindu-Budha pasca kekuasaan Mataram Hindu di Pekalongan Kuno.
Aliran Siwastra juga disebut aliran Saiwapaksa dengan lambang berupa senjata
panah Dewa Siwa. Beberapa pola batik tertentu telah menjadi barang yang
disakralkan oleh sekte-sekte Hindu tersebut.
RAGAM HIAS
BATIK KUNO
Secara umum, perkembangan ragam hias batik kuno pertama kali diilhami
dari bentuk ragam hias pahatan tiga dimensi yang terdapat pada relief-relief
candi maupun hiasan arca. Kedua adalah bentuk tumbuh-tumbuhan (flora) dan
binatang (fauna) seperti sulur-sulur daun, bunga, ikan, burung, dan singa.
Adapun yang ketiga adalah bentuk garis atau bidang berbentuk geometris yang
mengandung lambang tanda perhitungan hari dan bulan serta bentuk bangun
tertutup berupa garis-garis, segitiga, setengah bulatan, bulat-bulatan atau
bentuk lambang yang lainnya. Bentuk segitiga atau bulatan, bentuk ikal, dan
garis gelombang dikenal sebagai ragam hias pilin, meander dan swastka. Ragam
hias seperti itu sebenarnya sudah hadir dan merupakan ragam hias yang sudah
umum pada masa pra sejarah, khususnya pada jaman perunggu. Peninggalan nenek
moyang berupa batu kubur di Pulau Sumba telah menggunakan ragam hias semacam
itu.
Ragam hias segitiga adalah ragam hias yang dalam istilah Jawa disebut
“tumpal” dan makna dari bentuk itu adalah lambang kekuasaan. Beberapa sumber
menyebutkan bahwa ragam hias segitiga tersebut berasal dari India dan merupakan
stilirisasi gigi buaya sebagai lambang penolak bala. Ragam hias segitiga pada
batik terdapat pada sarung, kain kepala (pada ujung kanan dan kiri kain) serta
kain setengah kepala (satu ujung saja yang mempunyai ragam hias segitiga). Ragam
hias “tumpal” banyak dipakai untuk hiasan bagian kepala (jakatmakuto) arca.
Pohon hayat yang disebut Kalpataru membentuk sulur daun yang dijaga oleh naga
juga dibingkai oleh ragam hias “tumpal”.
Ada beberapa pola batik pada masa Hindu kuno di Jawa, antara lain pola
kawung, tumpal, ceplokan, padmasabha, dan sebagainya. Semuanya itu menjadi
dasar bentuk pola-pola ragam hias batik. Pola semacam itu bersumber dari
lingkaran candi sedangkan untuk pola kawung, tumpal, ceplokan dipengaruhi oleh
bentuk ragam hias yang terdapat pada hiasan kubur batu pada masa pra sejarah.
Masing-masing ragam hias memiliki keindahan seni dan makna perlambangan yang
secara bersinambungan dapat menyatu menjadi sebuah hiasan kuno. Pada masa
lampau, kerajaan yang pada waktu itu berada dibawah pemerintahan Mataram Kuno.
Penggunaan dan pembuatan batik terus berlangsung hingga abad XII Masehi,
setelah kekuasaan Mataram Hindu pindah ke Jawa Timur dan menjelang
keruntuhannya pada abad XVI Masehi.
Ragam hias yang menjadi dasar batik terus dikembangkan oleh keluarga di
dalam keraton sampai dengan periode Mataram Baru pada abad XVI Masehi dan
kesakralannya dijadikan sebagai simbol status suatu jabatan. Adapun ragam hias
yang berkembang pada Batik Pekalongan Kuno telah terhambat oleh keadaan
masyarakat yang makin surut dan jauh dari wilayah pusat-pusat kekuasaan.
Meskipun masyarakat saat itu membuat batik, baik untuk pelengkap sarana dalam
pengembangannya masih ketinggalan apabila dibandingkan dengan batik-batik yang
dibuat di daerah pedalaman dan pusat kerajaan.
diambil dari Buku Prof. Kusnin Asa "BATIK PEKALONGAN DALAM LINTAS SEJARAH"
diambil dari Buku Prof. Kusnin Asa "BATIK PEKALONGAN DALAM LINTAS SEJARAH"

Posting Komentar